Sabtu, 24 Agustus 2013

[New FF] The Sin

Foreword

Apa kau tahu dosa terbesar yang kau lakukan dalam hidupmu?
The sin that even you can't repent..

I take away all her happiness..
I turn off all the lights in her life..
Yet.. Do I still have the right to love her?

this is the sin that I can't repent..

He is the source of my sorrow..
One that should vanished from my life..
Yet... why the hell I do love him?

this is the sin that I can't repent..


Starring:
INFINITE Kim Myungsoo/L
A PINK Son Naeun
SHINee Lee Taemin
and additional cast or OC

~oOo~

And this is the foreword for my new FF!! Kekekeke my pinkfinite feels. 
Storyline sudah jadi, karakter sudah juga, tinggal nulis doang, tapi sabar deh.. laporan KP dulu diselesein dulu. hehehe

Jumat, 16 Agustus 2013

[FF] Curse of the Glass Shoes Part 6

Sebelumnya, saya mau mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin. Maafkan saya yang terus php dan nggak cepet cepet nyelesein FF ini, maafkan saya yang membully cast-cast di FF ini. LOL.

~oOo~

Title : Curse of The Glass Shoes
Author : Shin Chaerin/ Karin Asuka
Genre : Fantasy, Romance, Life
Rating : PG15
Main Casts :
INFINITE Hoya as Lee Howon/ Hoya
A PINK Eunji as Jung Eunji
Other Casts :
A PINK Yookyung as Hong Yookyung
GIRLS DAY Hyeri as Lee Hyeri
INFINITE Sungyeol as Lee Sungyeol
Type : Chaptered
Disclaimer: Semua cast bukan milik saya walaupun pengen banget ngoleksi mereka yang ganteng-ganteng. *eh. Enjoy my craziest fantasy ever.
Chapter 6. Mission Start

Hoya perlahan membuka matanya. Perlu sedikit tenaga lebih untuk itu karena ia merasa matanya seperti diplester, berat dan susah sekali untuk membuka. Perlahan, berkas demi berkas cahaya masuk ke matanya, dan akhirnya ia bisa melihat. ia melihat atap kayu, kemudian perapian berserta penangas airnya dan ketika ia menoleh ke kiri, tampak dua orang gadis sedang mengobrol. Eunji dan Hyeri, ia mengenali gadis itu. Hoya berusaha bangun namun sekujur tubuhnya masih teramat nyeri.
“Hoya ah, gwenchana?” Eunji melihat Hoya yang hendak bangun dan menahannya.
“Aku sudah tidak apa-apa, tenang saja” jawab Hoya sambil terkekeh. Eunji melihatnya dan tampak semakin khawatir. Hoya memang suka menutupi kesakitannya sendiri, agar ia tak cemas.
“Babo! Kau tak tahu bagaimana keadaanmu tadi.” Kata Eunji. Ia memang sedikit kasar namun sebenarnya ia amat khawatir pada Hoya.
“Lebih baik kau berbaring saja. Aku sudah menghabiskan banyak kekuatanku untuk mengobatimu, jangan sampai itu sia-sia. Bukan bermaksud pamer atau tidak ikhlas sih.” Kata Hyeri mendukung gagasan Eunji yang sepertinya menyuruh Hoya untuk kembali berbaring.
Hoya sedikit menggerutu, dalam hati ia berkata ia sudah tak apa, tapi ia menuruti perintah dua gadis itu sebelum kena omelan mereka.
“Jadi apa rencana kita selanjutnya?” tanya Eunji pada Hyeri yang tampak kembali berpikir.
“Rencana kita?” Hyeri bertanya pada Eunji. “Maksudku, kau bermaksud bekerja sama denganku? Benarkah itu?” tanya Hyeri, ia tampak senang dengan gagasan Eunji yang bermaksud membantunya menyelesaikan kekacauan di negerinya.
“Aku..sebenarnya hanya ingin kembali ke Earthland, tetapi, sepertinya aku mengerti bagaimana perasaan Eunji dari Scientia”  Tangan Eunji terangkat ke dadanya, ia memejamkan matanya dan merasakan sesuatu, perasaan ingin membantu Hyeri untuk membuat Scientia damai kembali.
“Jinjja?” tanya Hyeri, belum yakin pada Eunji.
“Ne, kurasa Eunji dari Scientia lebih bahagia begitu” kata Eunji sambil tersenyum, meyakinkan Hyeri. “Eh, tapi aku benar-benar tidak ingat apa-apa, tentang Scientia dan semuanya” kata Eunji melanjutkan
“Aku tahu, karena aku yang menghapus ingatan kalian, tapi maaf aku tak bisa mengembalikannya karena yaah kau tahu sendiri kekuatanku tinggal sedikit sekali. “ kata Hyeri, wajahnya tampak muram lagi.
“Gwenchana yo. Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Eunji
“Kita harus menyegel sepatu itu, atau memusnahkannya. Tapi yaah, aku tak tahu bagaimana cara memusnahkannya, jadi lebih baik menyegel saja. Jika sepatu itu sudah disegel, takdir yang dikacaukan oleh sepatu itu akan kembali seperti sedia kala. Jadi intinya, kalian bisa kembali ke Earthland jika sepatu itu sudah lenyap.” Kata Hyeri menjelaskan panjang lebar pada Eunji. Hoya mendengarnya juga, tentu saja sambil berbaring.
“Bagaimana cara menyegel sepatu itu?” Hoya yang sejak tadi diam mendengarkan, tergelitik untuk bertanya. Hyeri menoleh padanya dan sejenak berpikir.
“Park Chorong” Kata Hyeri singkat. Eunji mengernyit, ia seperti pernah mendengar nama itu. Ya, Hyeri pernah menyebut nama itu dalam ceritanya tadi.
“Park Chorong?” tanya Eunji
“Ya, dia adalah salah satu Tamer terkuat, seangkatan denganmu di akademi. Kekuatannya adalah segel.” Jawab Hyeri sambil menerawang, membayangkan sosok Park Chorong. Eunji mengangguk angguk.
“Lalu? Bukankah dia sedang dalam pengaruh hipnotis Suzy?” tanya Eunji.
“Memang, kita harus membebaskan dia dari pengaruh hipnotis itu. Aku punya ramuannya, tenang saja.” Kata Hyeri sambil beranjak mengambil ramuan yang ia bicarakan. Ia membuka lemari kayunya dan mengeluarkan sesuatu yang menyerupai botol dari sana. Botol bening itu berisi cairan berwarna ungu, ya itulah ramuan yang bisa menghilangkan pengaruh hipnotis Suzy. Eunji menatap cairan ungu dalam botol itu takjub. Ia masih belum terbiasa melihat benda-benda sihir seperti itu.
“Wow! Jadi kita tinggal membuat Park Chorong dengan sengaja atau tak sengaja meminum ramuan itu. Hmm” kata Hoya yang lagi lagi menimpali, tentu saja ia tetap sambil berbaring. Eunji menoleh ke arahnya, memandangnya dengan dahi berkerut.
“Hei, kurasa kita harus memaksanya meminum ramuan itu, dari cerita Hyeri tadi Park Chorong bukan orang sembarangan dan bodoh.” Kata Eunji.
“Eh, aku tak tahu cerita itu, maaf. Hehe” Hoya tersenyum meringis, menyadari yang ia katakan agak sedikit konyol.
“Yah, memang harus memaksa kurasa. Intinya, kita harus mengalahkan mereka dulu untuk bisa membuatnya meminum ramuan itu. Dan sialnya, Chaser Park Chorong juga bukan Chaser yang lemah. Nam Woohyun, kekuatan elemen airnya sangat luar bisa. Aku salah satu buktinya, kekuatanku hilang karena pernah terperangkap dalam Water Prisonnya.” Hyeri mendesah, ia teringat kejadian di istana Suzy beberapa waktu lalu.
“Hey, aku boleh bertanya?” Hoya tiba-tiba menyela
“Ne, katakan saja” jawab Hyeri, ia dan Eunji memperhatikan Hoya dan ingin tahu apa yang ingin ditanyakannya
“Ini seandainya, semoga tak terjadi, seandainya sepatu itu jatuh ke tangan Suzy apa yang terjadi?” tanya Hoya dengan wajah serius, ia tidak bermaksud pesimis, mungkin hanya ingin mengantisipasi sesuatu.
Hyeri berpikir sejenak, kemudian dengan wajah yang tak kalah serius ia menatap Hoya.
“Aku tak tahu pasti, yang jelas Suzy akan menggunakan kekuatan sepatu itu untuk membangkitkan Myungsoo oppa dengan kekuatan Naeun eonnie. Dan kalian tau, jiwa Chaser yang dipanggil secara tidak wajar akan membawa petaka bagi negeri ini.  Entah apa itu, sepertinya mengerikan sekali.” Jawab Hyeri. Hoya mengangguk-angguk, Eunji pun demikian, mereka membayangkan Scientia hancur lebur dan seketika mereka menghentikan bayangan itu, mereka tak ingin itu terjadi.
“Baiklah, kita memang harus mencegah agar Suzy tak mendapatkan sepatu itu” Eunji mengangguk lagi.
“Ya, dan kita harus mulai bergerak sekarang, Suzy pasti sudah tahu kalau sepatu itu ada di negeri ini. Tapi untungnya ia tak bisa mendeteksi dimana benda itu berada, sama seperti kita. Yah, itu termasuk keberuntungan.” Hyeri tersenyum samar. Keberuntungan yang ia bilang sebenarnya tak bisa disebut keberuntungan, lebih tepat jika disebut kesialan bersama.
“Dimana kita bisa menemukan Park Chorong itu?” tanya Eunji pada Hyeri
“Aku tau dimana Park Chorong dan Chasernya berada. Mereka penjaga gerbang 1, kau akan mudah menemukan mereka.” Hyeri beranjak dari tempat duduknya dan mengambil suatu benda yang kemudian dikenali sebagai peta dan menunjukkannya pada Eunji.
“Disini, begitu keluar dari Silent Forest gerbang 1 sudah menyambut kita, disitulah mereka berada” Hyeri berkata sambil menunjuk sebuah titik di petanya. “Yah, mereka tak akan ramah pada kita, jadi satu-satunya jalan adalah bertarung melawan mereka” Hyeri melanjutkan lagi.
Eunji sedikit terhenyak. Bertarung? Lagi? Apakah ia akan melihat Hoya bertarung dan terluka lagi? Ia menoleh ke arah Hoya dengan ekspresi khawatir. Apalagi Hoya sedang terluka, apakah ia sanggup bertarung? Benak Eunji diliputi kecemasan dan kekhawatiran akan keselamatan mereka berdua.
“Wae yo Eunji ah?” tanya Hoya begitu melihat wajah kalut Eunji.
“Ani, aku hanya sedikit pesimis, apa kita bisa mengalahkan mereka?” tanya Eunji
“Jangan khawatir, kekuatan Eunji eonnie masih melekat pada dirimu, dan kau tahu, Eunji eonnie adalah Tamer terkuat di Scientia, Hoya oppa juga. Jadi tenang saja” Hyeri tersenyum menenangkan Eunji. Eunji tak bisa mengingat apa sebenarnya kekuatannya, ia masih sedikit khawatir.
“Maaf karena aku kalian jadi tak bisa mengingat apapun, termasuk apa kekuatan kalian sendiri. Tapi percayalah padaku, kalian kuat.” Hyeri memantapkan Eunji yang masih ragu-ragu dan khawatir.
“Benarkah?” tanya Eunji lagi. Hyeri mengangguk dan tersenyum.
“Ah! Pedang dimensi Hoya oppa! Kalau ada itu, dan pastinya harus digunakan dengan baik sih, kita pasti bisa mengalahkan mereka!” Hyeri tiba-tiba berseru antusias. Hoya mengernyit, tak mengerti maksud Hyeri.
“Pedang dimensi? Milikku?” tanya Hoya. Hyeri mengangguk antusias.
“Ne! pedang itu luar biasa sekali. Bisa meniru kekuatan benda apapun yang disentuhnya!” seru Hyeri lagi. Hoya sepertinya mulai tertarik dengan kata-kata Hyeri soal pedang itu.
“Lalu dimana benda itu sekarang?” tanya Hoya. Hyeri lantas terdiam, ia mulai berpikir dan mengingat. Terakhir kali ia melihat pedang itu saat Hoya dan Eunji tergeletak tak berdaya di Silent Forest dulu saat mereka melarikan diri dari pernikahannya.
“AH!! Astaga aku baru ingat!!” Hyeri lagi-lagi berseru histeris. Ia berkali menepuk jidatnya dan mengomel tak jelas. Hoya dan Eunji hanya bisa mengernyit sambil menyimpan rasa ingin tahu mereka dalam hati.
“Astagaa!! Pedang itu.. errm maksudku pedang Hoya oppa itu ada di tangan Lee Sungyeol dan Yookyung eonnie!! Aisssh jinjja, bagaimana aku bisa lupa!!” Hyeri heboh sendiri, sedangkan Eunji dan Hoya tak tahu siapa yang dimaksud oleh Hyeri.
“Nugu yo?” tanya Eunji. Hoya menoleh ke arah Eunji, mereka berpandangan sambil mengerutkan dahi. Hyeri melihatnya dan sontak ia langsung menepuk jidatnya lagi. Ia lupa juga bahwa Eunji dan Hoya tak tahu siapa itu Lee Sungyeol dan Hong Yookyung yang disebutnya tadi.
“Salah satu dari ketujuh Chaser, dia tak sekuat Woohyun tapi patut diwaspadai” kata Hyeri
Hoya mendelik, ia teringat cerita Hyeri tentang Woohyun, chaser yang membuat Hyeri kehilangan kekuatan pindah dimensinya.
“Mwo? Dia juga memiliki kekuatan spesial seperti chaser yang lain?” tanya Hoya
“Ani, tetapi Yookyung eonnie, dia bisa membaca pikiran.” Kata Hyeri dengan nada serius.
Eunji tampak berpikir. Bagus, seorang Chaser yang kuat dikombinasikan dengan Tamer yang bisa membaca pikiran. Tak ada yang lebih buruk dari inikah?
“Kau yakin kita bisa mengalahkan mereka?” Eunji tampak amat skeptis dan pesimis. “Ah maksudku, Lee Sungyeol itu sekarang memilki pedang Hoya yang kau bilang bisa meniru kekuatan benda apapun yang disentuhnya kan?” lanjut Eunji
“Aku percaya kalian bisa mengalahkan mereka.” Kata Hyeri singkat. Ia kemudian beranjak dari kursinya, ia menatap ke luar jendela.
“Yakinlah, Eunji eonnie dan Hoya oppa yang aku kenal bisa mengalahkan mereka. Kalau mereka bisa, berarti kalian juga bisa kan?” kata Hyeri sambil tersenyum.
“Baiklah, jadi, dimana kita bisa bertemu, eh maksudku bertarung dengan mereka. Lee Sungyeol itu maksudku” tanya Hoya agak terbata-bata
“Gerbang 3, mereka disana. Lihat peta itu, cukup jauh memang, tapi aku bisa memakai kekuatan teleportasiku setidaknya untuk sampai disana saja.” Kata Hyeri sambil menunjuk peta di atas meja.
Hoya mengambil peta itu dan mengamatinya. Ia mengangguk mengerti akan penjelasan Hyeri. Eunji melihat peta itu juga, matanya menelusuri peta itu dengan teliti. Memang jarak gerbang 3 dengan tempat dimana mereka berada cukup jauh, tapi tak ada masalah karena Hyeri bisa menggunakan kekuatan teleportasinya.
“Lalu, kapan kita mulai bergerak?” tanya Hoya yang entah kenapa mulai antusias dengan rencana-rencana Hyeri.
Hyeri menoleh ke arahnya, ia tersenyum mendengar pertanyaan Hoya.
“Secepatnya, uhm tapi kalian harus memulihkan diri dulu dan sedikit latihan mungkin” kata Hyeri sambil menunjuk ke tubuh Hoya yang masih penuh luka walaupun sudah diobati olehnya.
“Ah ya, kau benar” kata Hoya dan Eunji serempak. Mereka sontak saling menatap dan mengernyit, sejurus kemudian tertawa. Hyeri ikut tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Hoya menyimpan lightsticknya baik baik di dalam sakunya, Eunji tampak menguncir rambutnya sedangkan Hyeri mengecek kembali peta yang ia bawa. Hari itu mereka bersiap berangkat menuju gerbang 3, tempat dimana Sungyeol dan Yookyung berada untuk merebut kembali pedang dimensi milik Hoya. Eunji bekali kali meniup poninya, salah satu cara menghilangkan kekhawatiran yang sejenak muncul dalam hatinya. Hoya yang melihatnya hanya tersenyum.
“Kalian siap?” tanya Hyeri
“Ne” jawab Eunji dan Hoya serempak. Hyeri kemudian merapal mantra-mantra dan dalam sekejap mereka sudah berada di depan sebuah gua dengan pintu masuk yang amat besar dengan latar belakang gunung bersalju.
Eunji merasa suhu udara di tempat mereka berada amatlah dingin, berkali kali ia menggosokkan kedua tangannya. Hoya dan Hyeri juga merasa seperti itu, berkali kali mereka meniup tangannya mereka yang dingin.
“Dimana kita bisa menemukan mereka?” tanya Eunji, matanya mengamati lingkungan di sekitarnya. Ia tak menjumpai sesuatu yang mirip “gerbang”.
“Tenang dan tunggu saja, mereka pasti menyadari kedatangan kita.” Jawab Hyeri
Benar, sekejap kemudian terdengar bunyi gemuruh dari arah gunung salju yang terhampar di hadapan mereka. Perlahan salju pun turun. Eunji, Hyeri dan Hoya harus memicingkan mata mereka untuk melihat ke depan, waspada akan apapun yang muncul. Dan, 2 sosok itu akhirnya menunjukkan diri mereka. Seorang wanita dengan gaun putih, berambut hitam lurus dan panjang, kulitnya putih pucat serta seorang pria dengan tinggi yang tak biasa, berjubah hitam serta sebuah pedang yang terselip di pinggangnya. Ya, mereka adalah Lee Sungyeol dan Hong Yookyung. Penjaga gerbang 3 telah menyadari kedatangan tamu tak diundang. Mereka tak mengenal diskusi, konfrontasi menjadi satu satunya opsi, dan Eunji, Hoya serta Hyeri telah siap dengan opsi itu.
“Lagi lagi parasit” Sungyeol berkata sambil mengamati Hoya, Eunji dan Hyeri.
“Apa kalian yang membuat Chaser lainnya terluka parah?” Yookyung bertanya. Matanya menatap tajam ke arah Hoya.
“Yookyung eonnie? Ini aku, Hyeri” kata Hyeri sambil menatap Yookyung lekat-lekat.
“Siapa kau? Aku tak mengenalmu, jangan sekali kali memanggilku begitu” Yookyung memandang sengit ke arah Hyeri. Hyeri terkejut, Yookyung memang sudah jatuh dalam pengaruh sihir hipnotis Suzy.
“Perintah nona Suzy harus dijalankan, lenyapkan semua parasit, dan kalian kebetulah muncul di daerah ku dan Yookyung jadi bersiaplah.” Sungyeol mengeluarkan pedang dimensinya.
“Ya ya, tunggu, aku hanya ingin mengambil sesuatu yang memang menjadi milikku.” Hoya tiba-tiba angkat bicara. Sungyeol mengangkat alisnya.
“Pedang dimensi. Kau mengambil pedang dimensiku kan? Dimana benda itu sekarang?” tanya Hoya. Sungyeol terkekeh.
“Dan kau kira aku akan mengatakan dimana benda itu berada begitu saja?” Sungyeol tertawa keras keras. Yookyung yang berada di sebelahnya menepuk pelan bahu Sungyeol.
“Yah, siapa tahu” Hoya berkata sambil dengan enteng mengangkat bahunya.
Sungyeol tiba tiba merangsek ke arah Hoya, Hoya terkejut atas serangan Sungyeol yang tiba tiba itu. Eunji melihatnya dan segera menciptakan Bubble Lightnya.
“Hoyaaa awas!” kata Eunji, Bubble Lightnya sudah melingkupi tubuh Hoya dengan sempurna.
“Ternyata kau juga tamer” Yookyung menggumam namun cukup jelas bagi Eunji untuk mendengarnya.
“Heheh, kau lumayan juga.” Kata Sungyeol sambil menatap Eunji.
“Dan kau cukup pengecut untuk ukuran Chaser, menyerang tiba-tiba seperti itu, cih” Eunji membalas ucapan Sungyeol.
“Chaser tak seperti Three Musketeer atau apapun lah yang kau sebut ksatria, jadi bersiaplah dengan serangan mendadak seperti tadi.” Kata Sungyeol panjang lebar. Yookyung menatap Sungyeol, dahinya berkerut. Sungyeol balas menatapnya dengan pandangan yang seolah bertanya “wae?”.
“Oppa, kalau kau menyuruh mereka bersiap-siap, serangan itu bukan serangan mendadak, babo ya” kata Yookyung.
“Ah ya benar juga.” Sungyeol meringis.
Hoya, Eunji dan Hyeri melihat percakapan duo Chaser dan Tamer itu takjub. Ternyata mereka juga bisa bercanda. -_-
“Sungyeol oppa, awas kanan!” tiba-tiba Yookyung berteriak. Sungyeol menoleh ke kanannya, dan disitu Hoya menyerangnya dengan pedang. Sungyeol mengelak dari serangan itu.
“Heh, ternyata kau sama saja, pengecut” Sungyeol setengah mengumpat.
“Ya! Bukankah kau tadi bilang begini cara Chaser bertarung?” Hoya membalas Sungyeol.
Sungyeol menyerang Hoya, Hoya mengelak ke kanan namun sial, Yookyung bisa membaca pikiran Hoya.
“Oppa, dia menghindar ke kanan” teriak Yookyung lagi. Sungyeol segera mengayunkan pedangnya ke arah Hoya menghindar.
“Hoya!!” Eunji berteriak dan sekejap bubble lightnya kembali menyelubungi tubuh Hoya, serangan Sungyeol tak mempan.
“Cih, kau mengganggu saja” Sungyeol mengumpat lagi.Secepat kilat ia berlari ke arah Eunji dan menyerangnya dengan pedangnya.
Eunji yang sedang konsentrasi dengan bubble lightnya tak tahu harus berbuat apa saat Sungyeol menyerangnya.
“Eunji ah, awas!!” teriak Hoya sambil berlari ke arah Eunji. Namun tiba-tiba Eunji menghilang. Hoya lega sekali melihat itu.
“Gomawo Hyeri ah” kata Hoya. Ia bersiap menyerang Sungyeol lagi. Sungyeol yang masih bingung dengan Eunji yang tiba-tiba menghilang tak tahu Hoya sedang menyerangnya saat Yookyung berteriak.
“Oppa, awas, menghindar!” Sungyeol refleks menghindari serangan Hoya.
Saat itu, Hyeri dengan cerdiknya mendekat ke arah Yookyung. Dengan hati hati ia mengontrol pikirannya agar tak berpikir apa pun. Sekejap Yookyung pun menghilang. Sungyeol yang sedang bertarung dengan Hoya terpecah konsentrasinya karena menyadari keberadaan Yookyung yang lenyap.
“Yookyung ah!!” teriak Sungyeol saat menyadari Yookyung tak berada di tempatnya. Hoya memanfaatkan itu untuk menyerang Sungyeol, Sungyeol pun terkapar di tanah, ia terluka namun tak terlalu parah. Sungyeol terus berteriak memanggil nama Yookyung.
“Tenang, ia hanya menghilang sebentar” kata Hoya mencoba menenangkan Sungyeol yang kalut itu.
“Ya! Kalau sampai terjadi apa apa pada Yookyung ku…” kata Sungyeol dengan geram. Hoya menghunus pedangnya ke arah Sungyeol. Sungyeol tak bisa berbuat apa-apa.
“Sungyeol oppa!!” Yookyung tiba-tiba muncul kembali, bersama Hyeri yang mencengkeram kedua lengannya.
“Yookyung ah, kau tak apa?” tanya Sungyeol, ia lega melihat Tamernya baik-baik saja.
“Eonnie, minumlah ini” kata Hyeri sambil menyodorkan sebotol kecil ramuan yang ia siapkan. Tangannya yang lain tetap mencengkeram kuat kedua tangan Yookyung.
“Shireo!!” Yookyung menolak. Hyeri menghela napas. Apa boleh buat, memang harus dengan kekerasan. Hyeri memukul leher bagian belakang Yookyung dan Yookyung pun pingsan. Sungyeol yang melihatnya semakin histeris.
“Ya! Apa yang kau lakukan padanya?!” teriak Sungyeol membabi buta.
Hyeri mengacuhkan Sungyeol yang berteriak-teriak itu dan segera meminumkan ramuan ungunya. Seteguk dua teguk dan perlahan Yookyung membuka matanya. Ia mengerjap dan menatap Hyeri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Matanya melebar saat melihat sosok Eunji.
“Eunji?” Yookyung bangkit berdiri dan menghampiri Eunji yang diam mematung.
Hyeri tak ada waktu untuk menanggapi Yookyung, ia pun melesat ke arah Sungyeol yang sejak tadi berteriak-teriak.
“Minum ini, cepat!” kata Hyeri.
“Shireo!!” tolak Sungyeol.
“Ya!! Cepat minum!” kata Hoya memaksa Sungyeol meminum ramuan itu. Seteguk dua teguk dan ramuan itu bekerja dengan sempurna. Mata Sungyeol melebar seakan melihat hantu saat menyadari Hoya ada di depannya.
“Hoya?” tanya Sungyeol dengan ekspresi wajah yang seakan berkata ‘aku tak salah lihat kan?’
“Aku memang Hoya. Wae?” tanya Hoya, ia bingung dengan perubahan Sungyeol. Yah, ramuan itu memang efektif.
Tiba-tiba Sungyeol memeluknya erat. Ia menepuk punggung Hoya keras-keras sambil tertawa, tawa khas Sungyeol tentunya.
“Ya, ya! Sakit, neo wae irae?” tanya Hoya berusaha melepas pelukan Sungyeol.
“Kau benar benar masih hidup!!!” Sungyeol mengamati Hoya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Sungyeol oppa! Lihat! Eunji..Eunji masih hidup! “ teriak Yookyung saat melihat Sungyeol. Matanya melebar saat melihat Sungyeol bersama Hoya. “Omo, Hoya?” Yookyung terkejut karena kehadiran Hoya.
“Ehm” Hyeri berdehem keras-keras. “Sepertinya aku perlu menjelaskan sesuatu disini, bisa kalian berkumpul sebentar” Hyeri berusaha mengendalikan situasi.
Dan mereka berlima pun berkumpul. Hyeri menjelaskan semuanya pada mereka, tentang Eunji dan Hoya yang datang dari dimensi lain, tentang kejadian-kejadian Scientia yang Sungyeol dan Yookyung tak ketahui juga tentang sepatu terkutuk itu.
“Tak bisa dipercaya, Suzy melakukan itu semua” Yookyung bergumam di sela cerita Hyeri.
“Ne, Suzy dulu gadis yang baik, kurasa” Sungyeol menambahkan.
“Sekarang tidak, dan kita harus menghentikannya” Hyeri berkata tegas.
Mereka berlima sibuk dengan pikiran masing-masing, berusaha menggabungkan semua cerita menjadi sebuah film yang bisa diputar di benak mereka. Banyak kejadian yang tak bisa mereka percaya, namun apa boleh buat kenyataannya memang seperti itu. Mereka harus menerimanya. Dan sekarang, menghentikan ulah Suzy menjadi prioritas utama.

~oOo~

Semakin bingung? sebenernya saya juga. LOL. Rencana FF ini akan berakhir di Part 13, panjang bener yak? yah karena castnya banyak, pengaruh juga ke jumlah part. Oh ya, soal FF baru, pengen cepet ngepost sih..tapii... sepertinya masih geje.

Minggu, 28 Juli 2013

[FF] Curse of the Glass Shoes Part 5

Ternyata bisa juga menepati janji ke diri sendiri. Dan selesailah part 5 ini setelah meditasi dan merenung berjam-jam (??). Enjoy (bagi yang mau baca aja sih).

~oOo~

Title : Curse of The Glass Shoes
Author : Shin Chaerin/ Karin Asuka
Genre : Fantasy, Romance, Life
Rating : PG15
Main Casts :
INFINITE Hoya as Lee Howon/ Hoya
A PINK Eunji as Jung Eunji
Other Casts :
INFINITE L as L/Kim Myungsoo
A PINK Naeun as Son Naeun
MISS A Suzy as Bae Suzy
A PINK Bomi as Yoon Bomi
A PINK Chorong as Park Chorong
A PINK Yookyung as Hong Yookyung
A PINK Namjoo as Kim Namjoo
A PINK Hayoung as Oh Hayoung
Kim Soohyun as Kim Soohyun
SECRET Hyosung as Jeon Hyosung
BEAST Kikwang as Lee Kikwang
GIRLS DAY Hyeri as Lee Hyeri
INFINITE Woohyun as Nam Woohyun
INFINITE Sungyeol as Lee Sungyeol
Type : Chaptered
Disclaimer: Semua cast bukan milik saya walaupun pengen banget ngoleksi mereka yang ganteng-ganteng. *eh. Enjoy my craziest fantasy ever.


Chapter 5. Third Generation Princess

Flashback
Seorang gadis bergaun putih pucat sedang menyirami bunga lily putih di kebun bunganya. Wajahnya berseri menatap bunga-bunga yang mekar dengan cantik itu. Sesekali ia tersenyum puas melihat bunga yang ia tanam tumbuh dengan baik.
“Naeunnie!” suara seorang pria mengagetkannya. Gadis bergaun putih pucat yang dipanggil Naeun tadi menoleh dan senyumnya merekah melihat siapa yang memanggilnya.
“Myungsoo oppa!!” Naeun balas memanggil pria itu. Myungsoo tersenyum melihat Naeun yang tampak senang melihatnya.
“Wae yo? Sepertinya senang sekali melihatku” Goda Myungsoo
“Aniyaa” Naeun berkata, pipinya bersemu merah.Myungsoo begitu mudah menebak isi hatinya.
“Jangan bohong” kata Myungsoo semakin menjadi
“Aniyo.” Naeun terus mengelak. “Oh ya, Oppa darimana saja?” tanya Naeun berusaha mengalihkan perhatian Myungsoo
“Mencari sesuatu, dan aku sudah menemukannya.” Kata Myungsoo sambil tersenyum penuh arti.
“Mencari apa?” tanya Naeun, ia ingin tau benda apa yang bisa membuat Myungsoo mencari-cari sampai menghilang berhari-hari.
“Rahasia” Myungsoo berkata sambil tersenyum. Senyum itu begitu memesona sampai Naeun sempat melongo beberapa detik, untungya ia bisa menguasai dirinya lagi. (LOL)
“Aissh, yasudah aku tidak bertanya lagi” Naeun mengerucutkan bibirnya, kesal karena Myungsoo tak memberitahunya.
“Haha kau lucu sekali Naeunnie” Myungsoo berkata sambil mengacak rambut Naeun, ia gemas dengan gadis itu.
“Jangan mengalihkan pertanyaanku.” Naeun masih cemberut. “setelah berhari-hari menghilang tanpa kabar, lalu sekarang Oppa tak mau memberitahuku alasannya, aku benar-benar kesal” Naeun menggerutu.
“Mianhae Naeunnie, maaf karena aku pergi begitu saja, untuk alasannya nanti kau juga akan tau.” Myungsoo tersenyum penuh arti lagi. Naeun tetap cemberut. Ia beranjak dari kebun bunga itu. Myungsoo yang melihat Naeun hendak pergi segera menahan lengan gadis itu. Sontak Naeun berhadapan dengan Myungsoo. Myungsoo tersenyum, kini wajahnya hanya beberapa senti jaraknya dari wajah Naeun. Naeun terkesiap, kaget dengan sikap Myungsoo yang tiba-tiba.
“Naeunnie, kau tidak rindu padaku?” tanya Myungsoo. Ia menatap wajah Naeun lekat-lekat. Naeun yang ditatap seperti itu berusaha menghindari tatapan mata Myungsoo. Wajahnya merah padam.
“tidak” jawab Naeun. Ia masih marah pada Myungsoo yang menghilang berhari-hari tanpa kabar.
“Benarkah?” tanya Myungsoo menggoda Naeun lagi. “Padahal aku sangat merindukanmu, Naeunnie” kata Myungsoo lagi. Ia membelai rambut panjang Naeun. Naeun terdiam.
“Mianhae, besok saat upacara pengangkatanmu menjadi putri generasi ketiga, kau pasti tau alasanku menghilang berhari-hari itu.” Kata Myungsoo sambil tersenyum. Naeun menatap Myungsoo, wajahnya seolah berkata ‘janji ya?’. Myungsoo mengangguk. Ia kemudian menarik Naeun dalam pelukannya. Naeun balas memeluk Myungsoo, ia sebenarnya sangat merindukan pria yang dicintainya itu.
“Bogosippo, oppa” kata Naeun pelan, namun cukup keras bagi Myungsoo untuk mendengarnya.
“Ne? apa kau bilang Naeunnie?” tanya Myungsoo menggoda Naeun lagi.
“Aish, aku tak mau mengulanginya lagi. Dengarkan baik baik, aku merindukanmu Kim Myungsoo!” kata Naeun berteriak keras di telinga Myungsoo. Myungsoo tertawa.
“Saranghae Son Naeun” bisik Myungsoo di telinga Naeun. Bibir tipisnya menyentuh telinga Naeun. Sontak jantung Naeun berdebar dua kali lebih cepat. Myungsoo selalu berhasil membuat hati dan jantungnya tak karuan.
Saat itu, Naeun dan Myungsoo tak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikan mereka lama sekali. Orang itu tampak benci luar biasa menatap pasangan kekasih itu. Dia adalah Bae Suzy. Tamer yang seangkatan dengan Naeun di akademi dan sangat berambisi menjadi putri generasi ketiga. Ia mencintai Kim Myungsoo. Karenanya ia membenci Naeun, gadis yang dicintai Myungsoo sekaligus gadis yang membuatnya kehilangan mimpinya menjadi putri generasi ketiga. Besok adalah upacara penobatan Naeun menjadi putri generasi ketiga. Suzy telah memutuskan untuk tidak datang. Ia sadar kalau ia datang hanya membuat dirinya semakin menderita. Menderita karena iri melihat Naeun. Suzy segera beranjak dari tempat dimana ia berdiri. Hatinya sakit melihat pria yang dicintainya bersama gadis lain. Ketika ia pergi dari tempat itu, tak sengaja kakinya menyandung sesuatu. Benda itu ternyata sebuah kotak hadiah. Suzy berpikir benda itu adalah milik Myungsoo, hadiah yang akan ia berikan pada Naeun besok saat penobatannya menjadi putri generasi ketiga. Suzy memungut kotak itu dan membuka isinya. Ia terhenyak dengan isi kotak itu. Sepatu kaca yang cantik. Sepatu yang pernah dibicarakan para Tamer. Ia sangat menginginkan sepatu itu. Namun sekarang, lagi-lagi Naeun yang mendapatkannya. Naeun selalu mendapatkan semua yang ia impikan. Hati Suzy nyeri lagi. Ia tidak bisa terima Naeun mendapatkan semua yang ia inginkan. Perlahan kebencian yang amat besar merasuk ke hatinya. Kebencian membuatnya memikirkan rencana paling gila yang pernah terpikirkan di otaknya. Tiba-tiba Suzy mendengar seseorang berbisik.
‘Ia selalu mendapatkan semua yang impikan bukan? Apa hatimu sakit? Apa kau benci padanya? Ia selalu mendapat yang kau impikan, bagaimana denganmu? Kau tak mendapatkan apa apa? Bagaimana jika ia lenyap? Kau pasti lebih bahagia, karena dia akan kehilangan semuanya, sama sepertimu yang tak mendapatkan apa-apa. Jadi…. Lenyapkanlah dia. Lenyapkan Son Naeun. Sebelum ia mendapatkan semua yang kau impikan. Bunuh Son Naeun’
Bsikan itu semakin jelas di telinganya. Bisikan itu berasal dari sepatu kaca yang ia pegang. Perlahan namun pasti, Suzy mulai terpengaruh. Ia mengiyakan bisikan itu, bisikan untuk membunuh Naeun. Ia telah memutuskan akan melenyapkan Naeun besok, sebelum upacara penobatannya menjadi putri generasi ketiga. Sebelum Naeun mendapatkan semua yang Suzy impikan.
Keesokan harinya, sama seperti hari sebelumnya. Matahari masih bersinar dengan cerah di Scientia. Dahan-dahan pohon berayun lembut diterpa angin. Scientia masih damai seperti sebelumnya. Hari itu, adalah hari penobatan Naeun menjadi putri generasi ketiga. Hiasan bunga lily sudah memenuhi sudut-sudut ruang. Semua penghuni istana utama sibuk mempersiapkan segalanya. Raja dan Ratu tampak gembira menyambut putri generasi ketiga. Mereka amat berharap pada Naeun, setelah meninggalnya Putri generasi kedua Eunji dengan tragis. Mereka berharap Naeun dapat menjadi putri yang dapat melakukan tugasnya dengan baik.
Di istana putri, Naeun tampak sedang mematut dirinya di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun putih pucat kesukaannya. Sehari sebelumnya Myungsoo sudah menyuruhnya memakai gaun lain yang lebih cerah, namun ia menolak. Naeun menganggap dirinya hanya cocok memakai gaun putih pucat itu.
“Boleh aku masuk?” Suara seorang pria terdengar dari balik pintu kamar Naeun. Naeun tersenyum mendengar suara itu.
“Ne” jawabnya sambil berjalan ke arah pintu.
“Hmmm, haruskah aku bilang kau cantik hari ini?” tanya Myungsoo
Naeun agak cemberut, ia menggembungkan kedua pipinya. Myungsoo yang melihatnya terkekeh pelan.
“Terimakasih” kata Naeun sambil tetap cemberut.
“Ya! Son Naeun, baiklah kau memang cantik hari ini. Jangan cemberut lagi. Ingat hari ini hari penobatanmu menjadi putri generasi ketiga” kata Myungsoo panjang lebar. Ia sebenarnya suka melihat Naeun cemberut seperti itu, menggemaskan sekali.
Wajah Naeun tiba-tiba berubah serius. Ya, mulai hari ini ia menjadi putri generasi ketiga. Tugasnya berat dan tidak main-main, ia tidak boleh bersikap kekanakan lagi. Ia ingat Eunji, putri generasi kedua yang telah meninggal.
“Oppa, sudah dengar tentang Eunji kan? Apakah aku juga akan dijodohkan?” tanya Naeun pada Myungsoo. Myungsoo sedikit terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu.
“Ne, aku akan bicara pada Raja dan Ratu nanti. Yang jelas aku tak akan membiarkanmu menikah dengan orang lain” jawab Myungsoo tersenyum.
Naeun lega mendengarnya. Ia berharap raja dan ratu mengubah kebijakan tentang putri yang harus menikah dengan pangeran dari negeri lain. Kalaupun raja dan ratu tak bisa mengubah kebijakan itu, ia rela mematuhi kebijakan raja dan ratu walaupun itu menyakitkan baginya. Namun yang ia pikirkan adalah perasaan Myungsoo, ia takut Myungsoo terluka akan keputusannya. Dan yang paling buruk lagi adalah ketika Myungsoo tak dapat mengendalikan emosinya, kekuatannya yang luar biasa akan membawa kehancuran bagi Scientia.
“Putri Naeun, sudah saatnya berangkat menuju istana utama” suara seorang pelayan menghentikan obrolah mereka.
“Ne” jawab Naeun seraya melangkah keluar dari kamarnya yang diikui oleh Myungsoo di belakangnya.
Ketika Naeun dan Myungsoo tiba di istana utama, mereka dihujani ucapan selamat oleh sesama Tamer, teman-teman seangkatan Naeun di akademi. Naeun gembira sekali melihat teman-temannya datang. Ia akan sangat merindukan mereka. Menjadi seorang putri berarti waktunya bersama teman-temannya akan jauh berkurang, karena itulah ia menganggap saat itu sangat berharga.
“Naeunnie, selamat!!!!” Chorong, Yookyung, Namjoo, Hayoung dan Bomi serempak memberi selamat kepadanya.
“Ne, gomawo, oh ya, Eun… ah maksudku Suzy mana?” Naeun tidak sengaja hampir menyebut nama Eunji. Chorong, Yookyung, Namjoo, Hayoung dan Bomi tampak muram, mereka ingat Eunji yang juga seangkatan dengan mereka telah tiada. Seandainya Eunji masih hidup, Eunji pasti yang paling heboh.
“Aku tidak melihat Suzy dari kemarin” jawab Chorong seraya menepuk bahu Bomi yang berada sebelahnya agar tak berwajah muram lagi.
“Oh” Naeun berkata singkat. Sebenarnya ia amat berharap Suzy datang, karena walau bagaimanapun mereka pernah berjuang bersama di akademi. Mereka mempunyai mimpi yang sama. Naeun merasa khawatir Suzy membencinya karena dialah yang menjadi Putri generasi ketiga, bukan Suzy.
“Kajja, Raja dan Ratu sudah menunggu” Myungsoo menyentuh tangan Naeun, mengajaknya masuk ke dalam istana. Naeun mengangguk, tak lupa ia melambaikan tangan pada teman-teman seangkatannya.
Kini Naeun dan Myungsoo berada di hall kerajaan Scientia. Di depan mereka, raja dan ratu tampak gembira melihat mereka. Beberapa pelayan yang berjajar di samping juga tampak bahagia sekali menyambut mereka. Mereka bertepuk tangan sambil sesekali mengucapkan selamat pada Naeun. Naeun menebar senyumnya, ia terkejut melihat apresiasi Raja dan Ratu serta rakyat Scientia padanya. Ia berjanji akan menjadi putri yang terbaik bagi rakyat serta raja dan ratu.
“Kemarilah Putri Naeun” Raja berkata mempersilakan Naeun naik ke atas altar. Naeun berjalan naik ke altar, ia meniti tangga dengan anggun. Dua pelayan tampak menghampirinya, membantunya memegang gaunnya yang panjang. Seorang pelayan tampak membawa sebuah nampan kaca, tempat mahkota putri diletakkan. Pelayan itu mendekati raja dan menyodorkan nampan itu dengan sopan, sesekali ia membungkuk hormat. Raja menyuruh Naeun mendekat padanya.
“Dengan ini, Putri generasi ketiga telah terpilih, wahai rakyatku, sambutlah Son Naeun” Raja berkata dengan berwibawa, ia kemudian mengambil mahkota putri kemudian menyematkannya di kepala Naeun.
“Terimaka……….” Naeun mengucapkan terimakasih pada Raja, namun kalimatnya terputus. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Kekuatan yang sangat besar, dingin dan penuh kebencian mendekat ke arah mereka. Sekejap kemudian, ruangan itu diliputi kegelapan, Naeun merasa ia harus melakukan sesuatu. Ia mengeluarkan kekuatannya, dengan cepat bubble lightnya menyelubunginya dengan cahaya putih.
“Naeunnie!!” Myungsoo berteriak memanggilnya. Naeun merasakan seseorang menyentuh lengannya. “Oppa, kaukah itu?” Naeun bertanya, ia tak bisa melihat apa-apa, hanya bubble light yang melingkupi tubuhnya yang tampak.
“Ne, aku disampingmu, tenang saja” jawab Myungsoo yang memegang tangan Naeun, menenangkannya. Perlahan, bubble light Naeun juga melingkupi tubuh Myungsoo.
“Apa yang terjadi?” tanya Naeun. Suaranya bergetar, ia khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Aku juga tak tahu, jangan jauh-jauh dariku Naeunnie” kata Myungsoo, ia mempererat genggamannya.
Perlahan kegelapan yang melingkupi mereka memudar. Ketika kegelapan itu benar-benar sudah hilang, mereka mendapati diri mereka masih berada di hall kerajaan Scientia. Namun, mengejutkan. Seluruh orang yang tadi berada di sana tergeletak tak sadarkan diri. Raja dan Ratu tampak tak sadarkan diri juga. Naeun terperanjat dengan pemandangan yang dilihatnya.
“Ap..apa yang terjadi? Semuanya? Raja dan ratu.. apa yang telah terjadi?” tanya Naeun. Ia tampak terkejut sekali. Apa yang telah terjadi. Kenapa semuanya tak sadarkan diri, padahal beberapa menit yang lalu mereka masih tertawa dan mengucapkan selamat padanya.
Saat itu, tiba-tiba suara tawa seorang wanita terdengar keras. Perlahan suara itu makin mendekat, pintu hall terbuka hinga muncullah sosok wanita itu. Bae Suzy.
“Suzy ah?” Naeun tak sadar bertanya, ia tak membutuhkan jawaban, hanya ia tak mempercayai sosok yang dilihatnya adalah Suzy, teman seangkatannya. Apakah Suzy yang menyebabkan ini semua?
“Ya, Aku Suzy!” Suzy menjawab dengan keras. Ia kemudian tertawa sinis lagi. Naeun makin terkejut melihatnya.
“Apa yang kau lakukan Suzy ah?” tanya Naeun pada Suzy yang masih tertawa itu.
“Apa yang aku lakukan? Cih” tanya Suzy sambil tersenyum sinis. “Aku menyihir mereka semua, mereka tak akan bangun sebelum aku memantrai mereka lagi, yah aku tak berencana membangunkan mereka jadi intinya mereka akan tidur selamanya” katanya dengan tenang.
Naeun terperanjat. Benar, temannya itu telah menyebabkan Raja dan Ratu serta rakyat Scientia tidur selamanya. Ia tak bisa mengerti jalan pikiran Suzy. Kenapa ia melakukan ini semua. Bukankah ia juga ingin menjadi putri? Kenapa ia malah menyebabkan kekacauan pada negerinya sendiri?
“Kenapa kau lakukan ini Suzy ah?” tanya Naeun, lagi lagi Suzy tersenyum sinis padanya. Naeun merasa berbicara pada Suzy, namun bukan Suzy yang ia kenal. Suzy yang ini seperti orang lain. Seperti penyihir jahat dengan kebencian luar biasa.
“Kau masih bertanya kenapa aku melakukan ini heh?” Suzy membentak Naeun. Kontan Myungsoo langsung bergerak ke depan Naeun, melindunginya dari serangan yang bisa Suzy lancarkan kapan saja. Suzy semakin benci melihat Myungsoo melindungi Naeun seperti itu. Ia merasa hatinya kembali ditusuk lagi. Suzy masih mencintai Myungsoo. Namun apa daya, Myungsoo mencintai Naeun.
Melihat Myungsoo yang melindungi Naeun itu, Suzy semakin geram. Ia menyuruh Kim Soohyun, chasernya menyerang Myungsoo.
“Soohyun oppa, habisi 2 orang itu.” Kata Suzy datar, ia memerintah Chasernya untuk menghabisi Naeun dan Myungsoo. Soohyun tak bisa menolak perintah Tamernya. Ia menghunus pedang dimensinya. Pedang dimensi Soohyun panjang dan tipis, cahayanya berwarna biru. Pedang itu mampu menyerap habis kekuatan apapun yang disentuhnya.
“Naeunnie, hilangkan bubble lightmu” Myungsoo menyuruh Naeun menghilangkan bubble lightnya, karena jika tersentuh oleh pedang Soohyun, kekuatan Naeun akan terserap habis.  Naeun berwajah seakan bertanya kenapa?” , namun begitu ia melihat wajah Myungsoo yang terlihat serius dan khawatir, ia pun menurut.  Cahaya di sekitar mereka berdua perlahan memudar. Suzy tampak gembira melihatnya, ia terkekeh pelan.
“Bubble lightmu yang terkuat di Scientia pun tak berguna melawan Soohyun oppa.” Suzy tersenyum dengan sinis. Ia beralih pada Soohyun dan memerintahnya untuk menyerang Naeun dan Myungsoo.
“Oppa, serang mereka, jangan biarkan mereka lolos” perintah Suzy pada Soohyun. Soohyun pun mengangguk ia tak punya pilihan selain menuruti Tamernya itu. Dalam hati ia tak suka Suzy yang bersikap sinis, kejam, dan penuh kebencian seperti sekarang.
Myungsoo menyuruh Naeun berlindung di belakangnya. Tanpa bubble lightnya, Naeun semakin mudah diserang, keselamatannya terancam. Memikirkan itu, Myungsoo semakin khawatir, ia takut Naeun celaka.
“Myungsoo ah, konsentrasi lah, karena aku tak main-main” Soohyun memperingatkan Myungsoo yang tampak tidak fokus.
“Majulah” jawab Myungsoo singkat.
Soohyun mengayunkan pedangnya yang langsing ke arah Myungsoo dan Naeun. Dengan gesit mereka berhasil menghindari serangan pedang Soohyun dan sesekali Myungsoo mencuri kesempatan untuk menyerang Soohyun dengan Black Krystal Rain nya. Ia tak bisa menyerang Soohyun dengan pedang dimensinya karena jika berkontak langsung dengan pedang Soohyun, kekuatannya akan tersedot habis. Tak ada pilihan lain, ia hanya bisa menyerang Soohyun dengan serangan jarak jauh.
Keadaan Myungsoo dan Naeun semakin terdesak. Myungsoo tampak terengah-engah karena tiap ia menyerang dengan Black Krystal Rain nya, kekuatannya berkurang sangat besar.
“Oppa, gwenchana? Kekuatanmu sudah berkurang banyak. Biar aku yang menghadapi mereka” kata Naeun yang amat khawatir melihat Myungsoo sudah terengah-engah. Naeun maju ke dapan Myungsoo namun dengan segera Myungsoo menahannya.
“Jangan… kau tak bisa melawannya.. apa lagi tanpa bubble light.. jangan Naeunnie” kata Myungsoo sambil mengatur nafasnya.
“Jadi hanya segitu kekuatanmu L?” Soohyun menyela mereka. Sebenarnya ia juga tampak kelelahan namun berusaha ia tutupi agar Suzy senang melihat Chasernya lebih kuat daripada Myungsoo.
“Jangan panggil dia dengan nama itu!” Teriak Naeun, ia tak suka Myungsoo dipanggil dengan sebutan itu. “Myungsoo adalah Myungsoo, bukan L” lanjutnya
Suzy menatap Naeun dengan benci, ia membenci Naeun yang memberikan nama Myungsoo pada L. Ia teringat kejadian saat mereka pertama kali bertemu dengan Myungsoo. Kilasan kilasan kejadian yang membuatnya sedih terus bermunculan, kejadian saat pertama kali bertemu dengan Myungsoo, Naeun yang berhasil mengendalikan Myungsoo menjadi Chasernya, kejadian saat Naeun dan Myungsoo berpelukan, saat Myungsoo memberikan sepatu kaca yang sangat ia inginkan pada Naeun bukan pada dirinya dan saat Naeun dinobatkan menjadi Putri generasi ketiga. Semua kilasan kejadian itu membuat Suzy semakin geram, ia membenci Naeun, sangat membencinya. Ia ingin Naeun segera lenyap agar ia tak merasa sakit karena semua mimpi-mimpinya direbut oleh Naeun. Ia sudah gelap mata, ia tak peduli lagi apakah yang ia lakukan itu benar atau salah, hanya ada satu rasa dalam hatinya, dan itu adalah kebencian.
“SOOHYUN OPPA!! BUNUH NAEUN SEKARANG JUGA!!!!!” Teriak Suzy pada Soohyun. Soohyun mengangguk dan segera melancarkan serangannya pada Naeun.
Naeun yang saat itu lengah terkena serangan Soohyun. Kekuatannya terserap habis. Ia jatuh, dan tak sadarkan diri.
Myungsoo melihat itu semua. Matanya terbelalak, ia tak mempercayai penglihatannya sendiri. Naeun tak bergerak. Naeun nya yang ia cintai tak bergerak lagi. Myungsoo berjalan terhuyung mendekati tubuh Naeun . Ia belum bisa percaya Naeun sudah mati. Naeun tak boleh mati, begitu pikirnya sambil memandangi wajah cantik kekasihnya.
Suzy menatap Naeun yang tergeletak itu dengan senang. Ia tertawa keras-keras, Naeun yang selama ini membuatnya menderita telah lenyap.
“Oppa, bagus sekali… “ kata Suzy memuji Chasernya yang berhasil membunuh Naeun.
Soohyun tampak iba melihat Myungsoo yang amat sedih melihat kekasihnya tergeletak tak bernyawa. Soohyun memasukkan pedang dimensinya dengan hati-hati. Ia sudah tak perlu menggunakannya lagi, karena jiwa Myungsoo akan ikut dengan jiwa Naeun. Hal itu sudah ada di perjanjian antara Chaser dan Tamer.
Myungsoo terus memandangi wajah Naeun yang perlahan memucat. Ia menyentuh pipi Naeun. Saatnya pergi akan tiba juga, ia bersyukur karena sudah mengikat kontrak dengan Naeun karena jika Naeun pergi ia akan ikut dan tak perlu menjalani dunia tanpa kekasihnya itu. Perlahan jiwa mereka berdua terlepas dan naik ke atas, terus ke atas hingga menghilang dari pandangan. Jasad mereka tetap di tempat itu. Tergeletak berdampingan.
Suzy melihat mereka dengan nanar. Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya, namun seakan kebas, ia malah tak bisa merasa apa apa. Semestinya ia senang karena Naeun sudah mati, namun ia tak merasa senang. Entah apa yang terjadi pada Suzy, ia hanya diam mematung memandangi tubuh Naeun dan Myungsoo. Tiba-tiba ledakan emosi terjadi pada Suzy, ia tertawa keras. Terus tertawa, dengan ekspresi dingin yang kejam.
“Soohyun oppa, Myungsoo sekarang jadi milikku” kata Suzy di sela tawanya. Soohyun menatap Tamernya itu iba. Ia sedih melihat Suzy jadi seperti sekarang. Suzy seperti dirasuki perasaan jahat dan obsesi semata. Ia sudah bukan Suzy yang dulu.
“Suzy ah, hentikan” kata Soohyun pelan namun cukup keras bagi Suzy untuk mendengarnya. Suzy menoleh ke arah Soohyun.
“Wae? Aku hanya senang karena orang yang membuatku menderita sudah lenyap dan akhirnya Myungsoo menjadi milikku. Apa itu salah?” katanya.
Soohyun menghela napas. Suzy yang ia kenal seakan sudah tak ada dalam diri Suzy yang sekarang berada di hadapannya.
“Myungsoo sudah mati. Jiwanya pergi dengan jiwa Naeun. Apa kau tak mengerti itu Suzy ah?” tanya Soohyun berusaha memberi pengertian pada Suzy. Namun Suzy tak bisa terima dan malah marah padanya.
“Tidak! Kau salah oppa!! Myungsoo ada disini, dan dia milikku” kata Suzy sambil menunjuk jasad Myungsoo. Ia kemudian tersenyum penuh kepuasan. Soohyun sedih sekali melihat Suzy yang tak kunjung mengerti. Emosinya meluap, ia sangat benci melihat Tamernya bersikap seperti itu. Soohyun memegang kedua bahu Suzy dan menatap lurus ke matanya. Suzy terkejut dengan sikap Soohyun itu.
“Dengar Suzy ah, Myungsoo sudah mati. Dan itu apa artinya? Dia tak bisa jadi milikmu. Hentikanlah obsesimu itu, aku mohon.” Kata Soohyun sambil menatap mata Suzy. Ia berusaha menyadarkan Suzy akan obsesi berlebihannya. Suzy mengerutkan dahinya. Ia tak suka Soohyun berkata seperti itu. Dengan kasar Suzy menepis tangan Soohyun yang memegang bahunya.
“Tidak!! Kau lihat itu oppa! Myungsoo disana!! Ia hanya tidur!!” kata Suzy dengan keras “Lebih baik oppa menghilang juga!! “ Suzy membentak Soohyun. Soohyun menganggap perkataan Suzy tadi sebagai sebuah perintah. Dan itu artinya, Suzy menyuruhnya untuk lenyap. Soohyun tak punya pilihan lain, ia menuruti perintah Tamernya itu.
“Baiklah kalau itu maumu, tapi satu hal yang harus kau tahu Suzy ah. Kebencian hanya akan membuatmu menderita. Dan aku..tak ingin kau menderita karena kebencian itu, karena aku mencintaimu.. maaf karena selama ini aku tak mengatakannya. Selamat tinggal” kata Soohyun. Matanya berkaca-kaca namun air matanya tertahan. Egonya sebagai seorang pria tak mengijinkan air mata menetes dari mata hitamnya. Suzy tak menganggap perkataan Soohyun, ia tak peduli pada Chasernya itu. Terus menerus ia memandangi jasad Myungsoo. Soohyun mengeluarkan pedang dimensinya dan menusukkannya ke dadanya sendiri. Ia pun mati, dengan kesedihan yang luar biasa. Suzy tak melihatnya sama sekali, ia hanya sibuk dengan jasad Myungsoo. Perlahan Suzy menyelebungi jasad Myungsoo dengan bubble lightnya dan membawanya pergi.
Sesaat setelah Suzy pergi, muncul sesosok gadis bergaun putih. Ia tergopoh-gopoh menghampiri Naeun dan Myungsoo yang sudah tiada.
“Naeun eonnie, Myungsoo oppa, bangunlah. Apa yang terjadi?” katanya sambil menatap tubuh Myungsoo dan Naeun bergantian. Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan istana utama yang kacau balau. Seluruh penghuni istana utama tergeletak tak berdaya. Ia mengira hari ini adalah hari bahagia karena Naeun, salah satu eonnie terbaiknya dinobatkan menjadi putri generasi ketiga. Dengan terburu-buru ia menyusul ke istana utama setelah tugasnya di Earthland selesai agar bisa menghadiri upacara penobatan Naeun, namun yang ia jumpai malah keadaan mengenaskan yang menimpa Naeun dan Myungsoo.
“Naeun eonnie, apa yang terjadi? Bangunlah” katanya sambil sesenggukan. Air matanya mengalir bulir demi bulir membasahi pipinya. Ia mengutuk dirinya yang selalu menyaksikan kejadian tragis yang menimpa para putri. Gadis itu terus menangis hingga ia tak sengaja meliha sepasang sepatu kaca teronggok di dekat tubuh Naeun dan Myungsoo. Ia menatap sepatu itu nanar, terperangah karena ia tahu bahwa sepatu itu sepatu terkutuk yang membuat Eunji, putri generasi kedua sekaligus eonnie yang disayanginya juga meninggal dengan tragis. Benaknya diliputi pertanyaan kenapa sepatu itu bisa kembali ke Scientia padahal dulu ia sudah memindahkannya ke dimensi lain. Gadis itu adalah Lee Hyeri. Lagi-lagi ia harus menyaksikan akibat dari kutukan sepatu itu. Ia bersumpah akan membuang sepatu itu jauh-jauh agar tak ada seseorang yang mengalami nasib buruk karenanya.
Hyeri mengeluarkan kekuatannya. Perlahan ia mengangkat tangannya, dan membentuk suatu segel. Ia menunjuk ke ruang kosong ke hadapannya dan perlahan ruang kosong itu menghitam, terus menghitam. Hyeri membaca mantra-mantra hingga ruang hitam tadi perlahan menampakkan suatu pemandangan. Earthland. Ia membuang sepatu terkutuk itu kesana sembari berharap pilihannya itu benar. Semoga sepatu itu tak mengakibatkan nasib buruk pada siapapun lagi.
Scientia, beberapa tahun setelah kejadian itu. Istana putri yang dulunya indah, penuh bunga-bungaan warna warni, sekarang dindingnya lusuh dan tamannya hanya berisi mawar berwarna hitam yang sudah layu. Di dalamnya, Suzy, mantan calon putri generasi ketiga itu tampak sibuk. Ia terus menerus memandangi jasad Myungsoo yang telah ia letakkan dalam peti kaca. Suzy duduk di singgasananya. Kanan dan kirinya penuh buku-buku usang yang ia ambil dari ruang rahasia akademi Tamer. Ia mencari cara untuk membangungkan Myungsoo. Namun beratus-ratus buku yang ia baca tak menghasilkan apa-apa. Suzy melempar buku-buku itu, murka karena tak kunjung menemukan cara untuk membuat Myungsooo hidup kembali. Sampai suatu saat, ia tak sengaja membaca buku harian milik kepala akademi Tamer. Di situ sang kepala akademi menuliskan tiap kekuatan para anak didiknya. Mata Suzy melotot menatap baris demi baris buku harian itu. Ia membaca bahwa kekuatan Naeun yang sebenarnya adalah memanggil jiwa Chasernya, jadi jika Chasernya mati Naeun tetap bisa membuat Chasernya hidup kembali. Kekuatan yang mengerikan, namun resikonya amat besar. Jika upacara pemanggilan jiwa tidak sempurna, maka nyawa sang pemanggil jiwalah yang akan menjadi gantinya. Kekuatan itu hanya bisa digunakan satu kali saja. Suzy menyeringai puas membaca buku harian itu. Akhirnya ia menemukan cara untuk menghidupkan Myungsoo. Namun ia harus menggunakan kekuatan Naeun, sedangkan Naeun sudah mati. Ia berpikir keras dan tiba-tiba wajah Hyeri berkelebat di pikiranya. Hyeri. Gadis itu mampu berpindah dimensi dan memindahkan benda ke dimensi lain. Jika Naeun dimensi lain dibawanya ke Scientia maka ia bisa menggunakan kekuatan Naeun untuk menghidupkan Myungsoo. Ide gila itu berhasil membuat Suzy tertawa keras. Ia lalu memanggil Chaser dan Tamer yang telah ia hipnotis. Dalam sekejap, boneka-boneka Suzy itu muncul di hadapannya.
“Cari Lee Hyeri dan bawa dia ke hadapanku, sekarang juga.” Katanya memerintah Chaser dan Tamer itu. “Oh ya. Dalam keadaan hidup” katanya melanjutkan.
“Baik Nona”
Chaser dan Tamer itu mengangguk patuh, mereka segera menghilang dari hadapan Suzy untuk memenuhi perintah tuannya itu. Dengan kekuatan mendeteksi aura, mereka bisa dengan mudah menemukan Hyeri. Hyeri tengah berada di Silent Forest. Gaun putihnya tampak kusam. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Eonnie-eonnie terdekatnya, Naeun, Eunji dan Tamer yang lain telah tiada. Sebagian besar terkena hipnotis Suzy sedangkan yang lain tertidur karena kekuatan sihirnya. Hyeri tampak muram, ia duduk di bawah pohon di depan rumah kayunya. Ia merindukan Scientia yang dulu, Scientia yang damai, cerah, penuh tawa, bukan Scientia yang dingin, suram dan penuh kegelapan seperti sekarang. Ia berpikir seandainya Eunji eonnie tidak mati, Naeun juga tidak mati Suzy eonnie yang tidak berubah bengis seperti saat ini, pasti Scientia tak akan menjadi seperti sekarang. Ia teringat dengan sepatu terkutuk itu, sepatu itulah yang membuat nasib buruk terjadi di negeri yang ia cintai.
Suara menggelegar yang memekakkan telinga membuat lamunan Hyeri buyar seketika. Pohon-pohon sekitarnya tiba-tiba rubuh, dalam sekejap muncul 4 orang yang amat Hyeri kenal. Mereka adalah Park Chorong, Nam Woohyun, Lee Sungyeol dan Hong Yookyung. Senior-senior Hyeri di akademi Tamer.
“Chorong eonnie dan… Yookyung eonnie?” Ap..apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Hyeri. Nada suara Hyeri menyiratkan kerinduan yang luar biasa.
“Menangkapmu” kata Chorong singkat. Hyeri terhenyak. Sebuah kesadaran baru menerpa dirinya. Orang-orang yang dihadapannya ini sudah bukan orang yang ia kenal dulu lagi. Mereka terkena pengaruh sihir Suzy. Hyeri mengepalkan tangannya, dalam hati ia bersumpah tak akan memaafkan Suzy.
Hyeri tak kuasa melawan 4 orang itu dan akhirnya tertangkaplah ia. Chorong menggunakan kekuatan segelnya untuk mengunci Hyeri. Hyeri pun tertangkap dan dibawa ke Suzy, entah apa yang akan Suzy lakukan padanya.
“Nona, kami sudah menangkap Lee Hyeri” kata Woohyun seraya mendorong Hyeri dengan kasar ke hadapan Suzy. Suzy tersenyum senang, memang menghipnotis Chaser dan Tamer adalah pilihan yang amat bagus. Ia beranjak dari singgasananya, berjalan ke arah Hyeri yang kedua tangannya terikat ke belakang. Perlahan namun pasti ia mendekati Hyeri. Dengan mata bulatnya ia mengamati Hyeri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ia tersenyum sinis dan mengangkat dagu Hyeri, menatap lurus ke matanya.
“Lee Hyeri, lama sekali aku tak bertemu denganmu ya” kata Suzy basa basi. Hyeri menatap Suzy benci.
“Ya, dan eonnie telah banyak berubah” katanya dengan sinis pula. “oh tidak, mungkin lebih tepatna, eonnie sekarang adalah orang lain.” Katanya melanjutkan. Suzy tertawa keras. Menurutnya kata-kata Hyeri itu amatlah lucu.
“Kau pintar sekali Hyeri ah, Suzy yang dulu memang sudah mati. Oh, atau memang aku yang sekarang ini adalah Suzy yang sesungguhnya. Kau saja yang tak tahu” kata Suzy sambil terus tertawa. Hyeri memandang mantan seniornya itu dengan murka.
“Ya!! Penyihir jelek!! Kembalikan Scientia seperti semula!!” teriak Hyeri pada Suzy. Suzy mendelik, dan tiba-tiba ikatan di tangan Hyeri menguat membuatnya meringis menahan sakit.
“Diam kau kalau masih ingin hidup. Dengarkan perintahku baik-baik.” Kata Suzy mengancam Hyeri yang mulai menentangnya.
“Tidak!’ Hyeri berkata dengan keras. Ia tak mau sedikit pun menuruti perintah Suzy.
“Aku akan membunuh seluruh penghuni Scientia kalau kau tak mau menuruti perintahku. Kau tahu pasti aku mampu melakukannya” ancam Suzy sambil menatap lurus ke mata Hyeri. Ia merasakan ancamannya amat efektif bagi gadis semuda Hyeri.
Mau tak mau, Hyeri pun menuruti perintah Suzy. Ia tak ingin Scientia hancur karenanya. Suzy tersenyum penuh kemenangan melihat Hyeri yang mau menuruti perintahnya.
“Buka gerbang dimensi ke earthland, bawa aku ke tempat Son Naeun versi earthland berada. Dan oh ya…. Sepatu kaca itu.. bawa aku ke tempat dimana sepatu itu berada” kata Suzy memerintah Hyeri. Hyeri tampak terkejut. Dari mana Suzy tahu kalau sepatu terkutuk itu dibuangnya ke earthland? Ia tak bisa membiarkan sepatu itu jatuh ke tangan Suzy.
Suzy mengetahui perubahan ekspresi Hyeri yang mendadak memucat. Tebakannya benar, sepatu kaca itu benar-benar ada di earthland, ternyata informannya tak salah. Ia semakin senang mengetahui kenyataannya itu. Rencananya menggunakan kekuatan sepatu itu untuk membangunkan Myungsoo akan menjadi nyata.
“Dari mana kau tahu tentang sepatu itu?” tanya Hyeri pada Suzy yang tampak tersenyum gembira itu.
“Tak penting, sekarang cepat kau buka gerbang dimensi” perintah Suzy yang segera ingin melancarkan aksi jahatnya.
Hyeri pun menurut, tapi dalam hati masih menolak untuk memberitahu Suzy dimana letak sepatu itu berada. Ia cukup merasa lega telah menyembunyikan sepatu itu di sudut Earthland. Hyeri berharap Suzy tak bisa menemukannya.
“Sepatu itu tak ada di earthland, aku sendiri yang memindahkannya” kata Hyeri mencoba berbohong.
“Ya! Sudah kubilang buka pintu dimensi ke earthland!” kata Suzy memerintah Hyeri lagi. Hyeri menatap tangannya yang terikat. Suzy mengerti maksud Hyeri. Ia tak bisa membuka pintu dimensi dalam keadaan tangan terikat. Suzy lalu menyuruh Woohyun melepas ikatan Hyeri. Namun Suzy cukup pintar, ia menyuruh Woohyun yang berkekuatan elemen air untuk mengawasi pergerakan Hyeri.
“Awasi pergerakan gadis ini, kalau ada yang mencurigakan, segera kurung dia dengan Water Prison mu” kata Suzy memerintah Woohyun.
Hyeri yang mendengarnya langsung merasa kalah. Rencananya gagal. Ia berencana untuk diam-diam mengirimkan Suzy ke dimensi lain dan menguncinya di sana. Namun Suzy tak sebodoh yang ia kira. Ia mengumpat dalam hati.
“Jangan macam-macam, buka pintu dimensi ke earthland sekarang juga.” Kata Suzy memberi tekanan pada setiap suku kata yang ia ucapkan.
Hyeri tak punya pilihan lain. Ia segera membuka pintu dimensi menuju earthland, sekejap di depan matanya muncul lubang hitam yang semakin lama menampakkan pemandangan earthland, dan pintu dimensi terbuka.
“Bawa aku ke tempat Son Naeun berada” kata Suzy memerintah Hyeri lagi. Mau tak mau Hyeri menurut. Dengan deteksi auranya ia berhasil menemukan Son Naeun. Gadis itu berada dalam sebuah penjara. Gelap dan dingin. Rambutnya kusut, wajahnya muram, ia seperti hidup segan namun mati pun tak mau. Jiwa gadis itu seakan telah melayang entah kemana. Hyeri iba melihat Naeun dalam kondisi seperti itu dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada gadis malang itu.
Begitu melihat wajah naeun versi earthland, Suzy pun tersenyum senang. Rencananya berhasil, ia akan menculik gadis itu dan melakukan rencana gilanya. Memakai tubuh gadis itu untuk membangkitkan kekuatan Naeun versi Scientia dan menghidupkan Myungsoo kembali.
Perlahan Suzy masuk ke dalam pintu itu. Begitu ia masuk ke dalam pintu itu, ia seakan berada pada terowongan yang amat gelap namun sekejap kemudian ia sudah berada di dalam penjara tempat Naeun berada. Gadis itu tampak terkejut akan kedatangan Suzy yang tiba-tiba. Namun raut wajahnya tetap sama, tak berekspresi, penuh kepedihan dan cenderung memilukan.
“Kau Son Naeun?” tanya Suzy pada gadis itu. Gadis itu menatap Suzy, lalu mengangguk namun tak mengatakan sepatah kata pun.
“Tatap mataku” kata Suzy. Ia menghipnotisnya. Gadis itu pun terjatuh dalam hipnotis Suzy. Ia tak sadarkan diri, Suzy memanfaatkan kesempatan itu untuk membawanya ke Scientia.
Hyeri melihat hal itu. Ia sadar, bahwa Suzy berencana menculik Naeun versi earthland dan membawanya ke Scientia. Entah apa maksudnya, Hyeri belum mengetahuinya secara pasti. Namun ia merasa rencana Suzy adalah rencana jahat yang akan membawa kehancuran lagi bagi negerinya. Ia melirik Woohyun yang masih fokus memperhatikan setiap gerak geriknya. Sial, begitu umpatnya dalam hati. Ia tak bisa melakukan apa-apa jika Woohyun terus memperhatikannya. Hyeri berpikir keras bagaimana cara mengalihkan perhatian Chaser itu. Namun otaknya seakan buntu, tak bisa memberikan solusi. Namun tiba-tiba ia melihat sebuah buku besar teronggok di samping kakinya. Oke, kekuatan fisiknya memang tak sekuat Kim Namjoo, namun menendang buku seperti cukup mampu ia lakukan. Ia menatap Woohyun sekilas, lalu menendang buku tebal itu ke arahnya. Perhatian Woohyun cukup tersita karena buku tebal itu mengarah tepat ke arahnya. Namun sial, Park Chorong melihat tiap gerakan Hyeri. Ia berhasil menghentikan pergerakan buku yang mengarah ke woohyun itu, dengan segelnya, Chorong menghisap buku itu dan menguncinya di sana. Rencana Hyeri gagal lagi. Dan konsekuensinya ia harus merasakana Water Prison Woohyun. Mendadak Hyeri diliputi air yang tekanannya amat besar. Seakan tubuhnya mau meledak karena tekanan airnya. Wajah Hyeri tampak kesakitan namun Woohyun tak menghentikan Water Prisonnya. Berkali-kali Hyeri tampak mengaduh namun tak dihiraukan olehnya.
“Bagus sekali Woohyun, Chorong” Siksa dia sampai mati” kata Suzy begitu ia menyelesaikan urusannya di earthland dan kembali ke Scientia melalui pintu dimensi yang dibuat Hyeri. Ia tampak membawa Naeun dengan bubble lightnya. Naeun versi earthland itu tertidur berkat sihir hipnotis Suzy.
“Gadis ini berusaha mengalihkan perhatian saya nona, saya yakin dia bermaksud menutup pintu dimensinya dan mengurung nona di dimensi itu” kata Woohyun menyampaikan apa yang dipikirannya. Dan itu benar, Hyeri memang bermaksud mengurung Suzy di earthland, namun sayang rencananya gagal. Kini Hyeri malah yang tersiksa di dalam Water Prison Woohyun.
“Gadis tengik ini punya rencana busuk rupanya” siksa dia terus, tapi oh, jangan sampai membunuhnya, aku masih membutuhkannya untuk mendapatkan sepatu sakti yang masih berada di earthland” kata Suzy seraya melenggang meninggalkan para bonekanya dan Hyeri. Ia membawa Naeun dan mengurungnya di salah satu ruangan di istananya. Naeun masih tertidur, ia mungkin takkan terbangun sampai Suzy memanfaatkannya untuk menghidupkan Myungsoo.
Di tempat dimana Hyeri terkurung oleh Water Prison Woohyun, para Chaser dan Tamer yang sudah dihipnotis oleh Suzy tampak menunggu perintah darinya. Entah itu untuk menghabisi Hyeri atau yang lain. Suzy tampak berjalan ke arah mereka.
“Lepaskan dia” kata Suzy pada Woohyun. Woohyun mengangguk hormat.
“Baik Nona” jawab Woohyun sambil melepas Water Prison yang menyelubungi Hyeri. Hyeri terjatuh, tubuhnya basah kuyup. Ia tersengal-sengal dan tak berdaya.
“Sekarang, bawa aku ke tempat sepatu itu berada” kata Suzy memerintah Hyeri yang tengah tersengal-sengal dengan tubuh basah kuyup itu.
“A..Aku…Tak Bisa” katanya sambil mengatur nafasnya.
“Aku tak peduli, kau harus membawaku ke sana” kata Suzy menuntut, ia tak mau tahu.
“Kekuatanku terserap oleh Water Prison tadi, sekarang aku tak bisa menggunakannya lagi” kata Hyeri, ia jujur karena memang kekuatannya terserap oleh Water Prison Woohyun. Ia tak bisa menggunakannya untuk saat ini, atau untuk jangka waktu yang ia pun  tak tahu.
“Jangan bohong!!” bentak Suzy, ia tak mempercayai kata-kata Hyeri. “Woohyun, siksa dia lagi! Memang dia perlu diberi sedikit pelajaran!!” kata Suzy pada Woohyun.
“Arrggghh” teriak Hyeri begitu Water Prison Woohyun mengurungnya lagi, seluruh tubuhnya sakit luar biasa karena tekanan air yang begitu besar, dan ia pun tak bisa bernafas.
“Cukup” kata Suzy memerintah Woohyun untuk melepas Water Prisonnya. Hyeri pun terjatuh ke lantai lagi. Keadaannya lebih mengenaskan dari sebelumnya.
“Sekarang bawa aku ke earthland” perintah Suzy pada Hyeri. Hyeri hanya mengangkat kepalanya sedikit, ia tak mampu bicara. Seluruh tubuhnya sakit, dan ia merasa tak bisa bertahan lagi. Sekejap kemudian ia pun pingsan. Suzy yang melihat Hyeri tak sadarkan diri semakin kesal. Ia ingin cepat mendapatkan sepatu itu tapi satu-satunya orang yang bisa membawanya ke tempat sepatu itu berada malah kehilangan kekuatannya. Ia mengumpat dalam hati. Suzy menatap Hyeri yang terbaring tak berdaya itu dengan kesal dan menendang kakinya.
“Ya!! Bangun!! Dasar tak berguna!!” umpat Suzy pada Hyeri. Ia kemudian beralih menatap Woohyun “Ya!!! Kau juga, kenapa kau membuat kekuatannya hilang!! Aku masih membutuhkan kekuatannya, dasar kalian semua bodoh!!” umpat Suzy lagi, kini ia menatap semua orang yang berada di ruangan itu. Ia benar-benar kesal dan marah karena rencananya yang tinggal selangkah lagi malah gagal.
“Enyahkan gadis tak berguna ini dari hadapanku! Cih, aku tak butuh dia lagi!” bentak Suzy pada anak buahnya sambil bergegas pergi dari ruangan itu.
Woohyun membungkuk dengan hormat ke arah Suzy, begitu pula Chaser dan Tamer yang lain. Hyeri masih terbaring tak berdaya dan belum sadarkan diri.
End of flashback
“Begitu aku bangun, aku sudah berada di Silent Forest. Sekujur tubuhku nyeri dan aku tak punya kekuatan apapun. Membuat bubble light pun aku tak bisa.” Hyeri melanjutkan ceritanya. Ekspresinya muram. Bahkan sampai sekarang pun ia tak bisa menggunakan kekuatan berpindah dimensinya.
“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?” Eunji bertanya seakan menuntut Hyeri untuk melanjutkan ceritanya.
“Aku memulihkan diriku di rumah kayu ini. Namun kekuatanku untuk membuka pintu dimensi lain tetap tak bisa digunakan. Setelah berlatih beberapa lamanya, kekuatan pertahanan dan teleportasiku akhirnya kembali, namun itu pun sangat terbatas.” Lanjut Hyeri.
Eunji terdiam sejenak. Dari tadi ada yang sangat menganggu pikirannya. Ya, tentang sepatu itu. Apakah sepatu kaca yang diceritakan Hyeri sama dengan sepatu kaca yang dilihatnya tempo hari saat ia masih di Earthland?
“Hyeri ah, lalu bagaimana dengan sepatu itu? Dimana benda itu sekarang?” tanya Eunji menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
“Aku tak tahu, mestinya sepatu itu ada di Earthland sekarang, Suzy belum berhasil mengambilnya, kurasa. Tetapi, aku merasakan kekuatan sepatu itu berada amat dekat dengan kita. Entahlah, aku tak yakin” kata Hyeri menjawab pertanyaan Eunji.
“Jadi sepatu itu ada di dimensi ini? Oh ya, seingatku saat aku jatuh dari atap itu aku sedang membawa sepatu kaca itu. Tapi, entahlah, aku lupa..” kata Eunji, dahinya berkerut berusaha mengingat-ingat.
“Mwo!!!” jadi sepatu itu memang benar-benar ada di Scientia?!!” Hyeri terkejut. Ia sebelumnya tak yakin sepatu kaca itu berada di Scientia, namun perkataan Eunji meyakinkannya.
“Eh.. aku tak tahu.. apakah sepatu kaca itu sepatu yang sama seperti yang ada dalam ceritamu.. tapi aku ingat betul, sepatu itu ikut jatuh bersamaku dari atap.” Jawab Eunji.
Hyeri terlihat tenang kembali, ia tampak berpikir, lalu mengangguk-angguk sendiri. Eunji heran melihat sikap Hyeri yang unik.
“Jadi begitu, aku paham sekarang. Intinya, saat kalian jatuh dari atap itu, entah kenapa pintu dimensi yang aku buat dulu tiba-tiba terbuka, dan tadaah kalian masuk ke dimensi ini. Dan yaaah, bersama sepatu itu, kurasa. Tapi sekarang pertanyaannya adalah, dimana sepatu itu???” Hyeri mengoceh sendiri. Eunji merasa diacuhkan sehingga ia beralih menatap Hoya yang masih terlelap.
“Apakah kalian melihat sepatu itu saat pertama kali berada di sini??” tanya Hyeri antusias. Mengetahui letak sepatu itu amat penting baginya, sebelum jatuh ke tangan Suzy yang jahat.
Eunji kembali menatap Hyeri yang sedang menatapnya, menuntut jawabannya segera.
“Aku tak melihat benda aneh di sekitarku saat itu” jawab Eunji. Seketika Hyeri kecewa.
“Ya, aku juga tak melihat apapun saat memindahkan kalian kemari dengan teleportasiku” Hyeri menambahkan.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Eunji. Hyeri menatap Eunji, matanya berkilat, tekadnya sudah bulat. Ia tak akan membiarkan sepatu itu jatuh ke tangan Suzy.
“Kita harus mendapatkan sepatu itu, sebelum Suzy mendapatkannya.” Kata Hyeri
“lalu?” tanya Eunji lagi. Ia masih belum tahu apa rencana Hyeri.

“Kita akan menyegelnya, agar sepatu itu tak bisa membuat kekacauan takdir lagi di Scientia maupun di Earthland” Kata Hyeri lagi. Eunji mengernyit, ia belum paham apa maksud Hyeri. Namun, ia paham kalau sepatu itu sama sekali tidak membawa pengaruh baik dimana pun. Ya, ia harus mendapatkannya dan menyegelnya sebelum orang lain khususnya Suzy menggunakannya untuk kejahatan dan obsesi pribadinya.

~oOo~

Jujur, aku sebagai yang nulis aja bingung. Hahaha. Semoga yang baca nggak bingung deh ya~
Oh iya, ff baru yang aku bilang di post sebelumnya, mungkin baru aku post setelah part 6 FF ini selesai. Semoga bisa cepet. hohoho.
Ternyata bisa ngepost FF aja seneng banget. LOL. I'm such a simple minded person after all.
 
Images by Freepik